Sabtu, 18 November 2017

Very First Solo Traveling

Tadinya ingin nulis perjalanan selama akhir 2016 menuju akhir 2017, tapi gak sengaja menemukan cerita yang terbengkalai ini di draft. Oke baiklah, kuputuskan untuk melanjutkan cerita setahun lalu ini dulu. Super duper late story sih, tapi it's okay lah. Let's gooooo!!
.
.
.
Sebenarnya gak lagi dalam mood nulis sih, cuma pengen ceritain pengalaman terbaru, pengalaman pertama dalam 24 tahun hidup di dunia : My very first solo traveling!

Ini bukan traveling sih, tapi tes kerja yang dibumbui dengan traveling he he he. Jadi, akhir September kemarin dapat panggilan Tes Potensi Akademik Bank Indonesia di Medan. Alhamdulillah tesnya hari Sabtu, jadi gak perlu pakai acara gak masuk kerja. Tapi, nanti nginapnya dimana? Jadilah setelah dapat info panggilan tes, langsung ngehubungin teman KPN Sumut yang cewek, kali aja bisa numpang nginap hehe. Tapi apa daya ternyata dia udah gak tinggal di Medan. Terus nelfon teman KPN Sumut yang cowok buat nanya saran dan dia cuma bilang "Kalo tempat nginap aman tu". Gak lama kemudian dia ngabarin kalo aku udah diizinin nginap di kontrakan juniornya dekat USU, yang emang jadi lokasi tes aku. Heol..

Hari Jum'at pun tiba. Pulang kerja jam 4 sore, langsung kejar-kejaran pulang ke rumah karena flight-nya jam setengah 7. Buru-buru mandi, taunya udah dapat second call juga pas di bandara - gara-gara macet. Oke, pengalaman pertama pergi sendirian dimulai! "Iyeees, I'm here by myself, not with my mom, my dad, or my friends, just by myself." Itu yang ada di benak ketika itu. Iya, alay memang. Namanya juga pertama kali wkwk.

Kurang lebih 45 menit kemudian pesawat sampai di Kualanamu. Langkah selanjutnya, tentuin transport dari bandara ke Medan yang jaraknya lumayan jauh. Ada 3 pilihan : Taksi, Kereta Api, dan Bus. Dari rumah, Papa nyaraninnya pakai kereta biar lebih gampang gak bingung nyari-nyari, tapi harga tiketnya Rp 100.000 wei. Heumph.. Akhirnya, kuputuskan naik Damri. Ngikutin penunjuk arah dimana Damri ngumpul terus celingukan bingung busnya yang mana satu. Tiba-tiba ada abang-abang nanya, "Damri?". Langsung ngangguk "Iya Bang". Terus ditanya abangnya lagi "Carrefour/Amplas?". Bermodal pesan dari teman KPN aku yang bilang bakal jemput di Carrefour, langsung aku jawab "Carrefour Bang". Terus akupun langsung ditunjukkan Damri jurusan Carrefour dengan biaya 15-25 ribu saja..

Perjalanan dari bandara menuju Carrefour memakan waktu kurang lebih 1,5 jam. Setibanya disana, aku nungguin jemputan teman KPN cowok yang tadi aku mention, mari kita samarkan namanya menjadi si Lae. Gak lama menunggu, si Lae pun datang. Basa-basi dikit temu kangen udah lama gak ketemu terus makan, langsung cus menuju kontrakan junior si Lae tempat aku bakal numpang tidur mandi dsb - berhubung malam udah makin larut. Juniornya si Lae ini yang mari kita panggil saja dengan nama Anis, ngontrak bareng teman-temannya yang jumlahnya ada hemmmm sem-bi-lan orang! Iyess, mereka ngontrak bersepuluh, kewren! Ada 4 kamar disana, yang 3 lumayan untuk beberapa orang dan yang 1 kamar paling kecil ukuran sekitar 1,5 x 2,5 meter. Nah, kamar yang paling kecil ini kamarnya Anis dan otomatis aku bakal nebeng di kamar ini. Agak awkward sih ya baru kenalan sepuluh menit yang lalu terus langsung tidur bareng wkwk. Untungnya si Anis ternyata k-land fans juga. Alhamdulillah, ada bahan hahaha.

Besok paginya, tanggal 24 September 2016, seperti yang sudah terjadwalkan aku cus menuju USU buat tes BI pakai becak motor diantar Anis dan dia juga menawarkan untuk jemput aku nanti setelah tes. Dududu... baik banget. Untuk proses tesnya sendiri, gak ada yang perlu diceritakan lah ya soalnya bukan inti dari postingan ini wkwkwk :'' Sepulang tes, aku diajak Anis buat USU tour. Waaa, kampusnya besar dan letak bangunannya rapi. Plus lagi yang aku kagum, mahasiswanya punya banyak kegiatan semacam ekskul gitu, ada nari, manah, taekwondo, dll.

Sekitar siangan, aku dan Anis plus si Lae, pergi makan siang. Aku request ke Lae buat jalan-jalan ke pagoda yang terkenal itu. Dan si Lae pun mengiyakan siang itu juga. Jadi deh agenda setelah makan adalah keeeee pagodaaaa, tapinya minus Anis. Letak pagoda itu ada di Berastagi, kurang lebih 2 sampai 2,5 jam perjalanan. Jalan menuju kesana lumayan berat sih, berkelok-kelok di perbukitan dan udaranya juga dingin-dingin sejuk. Sekitar jam setengah 5, kami sampai di pagoda itu. Yeaaahhh. Dan langsung dapat pengumuman kalo pagodanya bakal tutup setengah jam lagi hahaha. Cepat-cepat kelilingin areal pagoda plus taman-tamannya, ambil gambar jepret sana-sini tapi terbatas pakai kamera HP. Ya Allah, nyesal gak bawa kamera di tempat sebagus iniiii :(

Ini dia replikanya Pagoda Schwedagon di Myanmar yang bisa kita temukan di Berastagi. Nama tempatnya Taman Alam Lumbini yaaa

Sebelum balik ke Medan lagi, si Lae sempatin ngajak ke sebuah bukit yang lokasinya gak jauh dari pagoda ini, namanya Bukit Kubu. Sampai disana.... Ya Allah, nyesal lagi gak bawa kamera :( Aku langsung kasi gambarnya aja ya soalnya aku gak jago mendeskripsikan wkwkwk. Leyeh-leyeh bentar disana plus jepret-jepretnya gak boleh lupa. Maghrib menjelang, kami balik ke Medan. Malamnya makan roti tisu untuk pertama kalinya hahaha. Alay.

Ini foto dari kamera HP aku yang super tidak memuaskan hati wkwk

Aku tambahin proper photo dari gugel biar kelihatan kalo tempatnya emang bagus dan cucuk banget buat family time 

Hari Minggu, 25 September 2017, aku kemana aja yaa. Memoriku udah agak-agak memudar soalnya momennya udah setahun yang lalu wkwk. Oia, seingat aku, aku dan si Lae pergi ke Gereja Velangkani, bukan buat ibadah lho ya, cuma buat foto-foto aja soalnya bentuk bangunannya unik. Kali ini, kami kedatangan anggota baru sebut saja namanya Laelae. Dia ini teman KPN ku juga.

Amek - si Laelae - si Lae dengan background Graha Maria Annai Velangkanni

Kayaknya abis dari gereja ini, kita makan siang terus gak terasa aku udah harus berangkat ke bandara buat balik ke Pekanbaru. Nah, kali ini aku milih naik kereta dibanding Damri. Alasannya biar on time aja sih. Sampai di bandara, naik pesawat, pesawatnya terbang, gak sampai 1 jam kemudian, Pekanbaru udah kelihatan. Thankyou, Medan!
.
.
.
So, was it really solo travelling? Oh, come on, Mek! You had friends to accompany you everywhere there -------- Hahaha it's okay lah ya, I will still call it solo traveling - the time I spent by myself in airplane, in bus, and in train as well, I love it so much!

Ps : I will continue this story later, when I'm in writing mode wkwk, because you know what? I pass the first round of BI test. Seeyaa!



Salam Manis,
Amek

Senin, 05 September 2016

First Half of 2016

Huweeee it's been a long long long timeee since last I told you some random things, 17 November 2015, to be exact. Waktu itu sedang hectic-hecticnya nyusun skripsi, sedang galau-galaunya tiap ada yang nanyain progress, dan sedang baper-bapernya kalo ada teman yang lebih dulu jemput gelar. But now, here I am. Udah sidang, udah wisuda, daaan udah jadi pengangguran kurang lebih setengah tahun.

So, what has exactly happened in the last 8 months?
Pertama, ku sudah sidang akhir di tanggal 18 Desember 2015 dan akhirnya berhasil menjemput dua huruf itu. Lalu seremoni peresmian gelar itu di tanggal 27 Februari 2016. Alhamdulillah :'D

Sidang yang malah kayak arisan karena ciwi-ciwi semua hihi

Unofficially Sarjana Teknik

Yudisium FST - 25 Februari 2016

Wisuda yang euforianya cuma bertahan sehari

Kedua, there was so many "mendadak" trip for the first half of this year - untuk ukuran seorang Amek. Dimulai dari trip ke Batam - SG di awal Februari. Dengan kebaikan dan kemurahan hati Mama dan Papa, ku dan sister pun bisa ikut di acara jalan-jalan Mama dan Ibu-ibu kantor Papa. Rencanainnya sekitar dua minggu sebelum berangkat, tapi enggak tau sebenarnya acara Ibu-ibu ini jadi terealisasi atau enggak. Dan, kabar bahagia itu pun datang di hari minus sekian. Meskipun gak sampai 12 jam di SG dari total 3 hari trip, it was good enough lah untuk ukuran pertama kali kesana ha ha ha ha. Norak ya, ewww.


Setelah bebepara tahun akhirnya kembali kesini hihi


Garden by The Bay

Patung singa~

Awal April, I got to go to Padang. Judulnya gak "trip" sih, soalnya tujuan utama kesana adalah Tes PLN. Ini mendadaknya karena PLN emang selalu ngasih pengumuman sekitar H-3 pelaksanaan tes. Jadwal tesnya itu selama tiga hari. Kalo lulus hari pertama lanjut hari kedua, gitu seterusnya. Tapi apa daya belum rejeki, ku cuma bisa sampai di hari kedua. Jadilah ku nganggur di hari ketiga karena nungguin teman pulang yang berhasil lulus sampai hari ketiga. Nah, bisa dibilang itu one of the best nganggur moment ever lah, soalnya bisa jalan-jalan ha ha ha ha. Ya Allah, niatnya aja udah salah ya. Disana itu ku ketemu separuh racunku yang sudah lama ku rindukan. How could I got bored? Yah, meskipun cuma sebentar dan gak banyak tempat-tempat yang bisa kita kunjungi.

Mesjid Raya Sumatera Barat

Pantai Caroline yang tak seberapa

Ketemu Fadlaaahh yeaaay (Loc : Pelabuhan Muaro)

Museum Adityawarman

Ketemu Uda Hendra jugaaa asik

Awal May, giliran ke Siak. Kalo cuma balek hari masih bisa dbilang "trip" gak sih? Ha ha ha ha. Trip kali ini adalah trip yang sudah direncanakan sejak lama tapi direalisasikan secara tiba-tiba. Berhubung perjalanannya singkat, jadi deskripsinya juga singkat ya ha ha ha ha.

Istana Siak (semua juga udah pada tau haha)

Kelenteng Hock Siu Kiong

Kampung Cina-nya Siak

Trip terakhir di setengah tahun pertama 2016 adalaaah trip libur lebaraaan. Kemana lagi kalo bukan ke Sumbar, itupun karena udah pakai acara merajuk sama Papa. Yang ini juga mendadak, H-1 baru keluar keputusan. Walaupun pergi lumayan macet apalagi pulang yang gak terdeskripsikan lagi macetnya, tapi ku happy lah bisa libur lebaran kayak orang-orang ha ha ha ha.

Cantiquenyaaa Danau Maninjau (ps; ini bukan foto dari Google)

Pantai Padang edisi sunrise. Edisi sunsetnya juga ada, tapi masih di kamera wkwk

Puncak Mandeh

Jalan-jalan aja, Mek. Gak kerja? Nah lhooo..
Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, ku sudah mengalami momen menganggur selama kurang lebih enam bulan terhitung sejak abis wisuda. Selama itulah ku suntuk dan cari-cari cara biar bisa pergi jalan-jalan. Kemaren sempat kerja di perusahaan finance selama empat hari. (((Empat hari))). Lalu resign.

Dan di bulan September ini, ku mulai magang di suatu perusahaan migas. Ingat ya, ku anak magang. Masih belum punya pekerjaan tetap. Ha-ha.



Salam Manis,
Amek

Selasa, 17 November 2015

Aku harus menyibukkan diri. Membunuh dengan tega setiap kali kerinduan itu muncul. Ya Tuhan, berat sekali melakukannya. Sungguh berat, karena itu berarti aku harus menikam hatiku setiap detik.

- Tere Liye dalam Sunset Bersama Rosie

Minggu, 15 November 2015

Someone Needs Someone To Talk To

"Beberapa hari ini hectic banget, Mek. Capek. Mungkin karena sepi juga, jadi selalu ngerasa sendiri."

Hey, I do feel it too, Dear. Dalam artian capek yang berbeda, dalam artian sepi yang berbeda. Tapi akibatnya sama : selalu ngerasa sendiri. Belakangan emang sensitif banget. Apa-apa dipikirin, apa-apa dibawa ke hati, apa-apa langsung ngerendahin diri sendiri. Iya, baper kalo kata anak-anak jaman sekarang.

Karena sensitif yang agak berlebih ini, ujung-ujungnya ngefek ke diri sendiri juga. Jadi ngerasa sepi, ngerasa selalu sendiri, ngerasa gak ada yang bisa dijadikan tempat mengadu, tempat buat ngeluh, nangis, dsb.

Tempat-tempat terdekat justru fisiknya gak keliatan, pikirannya sedang jauh memikirkan hal lain. Juga mungkin memikirkan dirinya yang bisa jadi lebih membutuhkan tempat berbagi. Pada akhirnya, apa yang menumpuk di hati, terpaksa dikubur dalam-dalam karena keadaan gak memberikan ruang buat cerita kesana ataupun kesini.

Sebagai makhluk sosial, manusia butuh teman untuk sekedar bilang "Aku sedih".

When Lovers Become Good Friends

"Gimana, gimana baju baru gue? Lucu kan?"
"Lucuan juga temen Lo yang di foto kemaren. Bisa kali jodohin gue.."
"Yeeee, tapi Lo kan dulu sukanya sama gue."
"Ahahahahaha, kampret Lo!

Kenalin, gue Rio. Itu tadi Nika. Mulutnya kadang emang suka ngasal. Seperti yang udah Lo baca, gue suka sama dia dan dia pernah menjadi kekasih gue. Tapi itu dulu, pas jamannya Rama masih pager-pageran sama Shinta. Sekarang kita udah jadi temen baik. Baik banget malah, sampai dia bisa semena-mena ngomong ke gue kayak tadi.

Nika satu-satunya mantan kekasih gue yang bisa menjalin hubungan sebaik ini sama gue setelah cinta monyet-monyetan kita berakhir. Malah bisa dibilang, pertemanan kita sekarang lebih seru dibanding dulu sebelum pacaran. Gue bisa ngobrol panjang lebar sama dia, berkeluh kesah tentang tugas-tugas kuliah dan dosen killer, bahkan curhat mendalam tentang pasangan masing-masing. Syukur-syukur mulutnya gak lemes ngeledekin kekasih-kekasih gue setelah dia. Yang paling seru tapi ngeselin nih ya, pas salah satu dari kita mulai ungkit-ungkit ke-alay-an dan drama-drama FTV tempo dulu, pas masih menyandang status sebagai kekasih. Gak ada rasa sakit hati ataupun tersinggung, yang ada malah ketawa lepas sampai kita juga bisa hibur orang-orang yang gak sengaja dengar debat alay-alay kita (dilanjutkan dengan muntah berjamaah). Obrolan-obrolan ngalor ngidul nan mendalam itu terasa ringan dan menyenangkan karena kita sama-sama gak ada perasaan aneh-aneh kayak dulu lagi. Kita sama-sama tau kalo keadaan sekarang adalah keadaan terbaik dari sejarah panjang hubungan kita sebagai teman ataupun kekasih. Dan kita juga sama sekali gak pengen merubah keadaan itu.

Sebelum mengakhiri cerita ini, gue mau sedikit recall debat kita yang lucu nan menyedihkan beberapa waktu lalu.

"Kan udah gue bilang, si doi mah cuma php-php doang bla bla bla gini gitu gini gitu.."
"Pftttt, Lo kayak gak tau aja. Gue mah kalo pacaran kalo gak dimanfaatin yaa dijadiin pelarian."
"AHAHAHAHAHAHA!!!!"

Namanya Nika.
Kalo udah sayang sama orang yaa kepalanya dibobol pake cangkul, terus otaknya diambil buat mainan kucing tetangga. Bego sih yaa..

Sekian.

Sabtu, 22 Agustus 2015

Remain The Same


“Udah lewat setahun, jangan diingat-ingat lagi.” - Fadlah, 22 tahun.
 
How could I forget when it gave me so much to remember?

Laut, langit, angin, sunrise ke sunset, helideck, popmie, dan kita. Ingat? Kita berbagi apapun. Tempat tidur, makanan, air mineral, pakaian, jilbab, parfum, eyeliner, uang, even we shared punishment. Tell me something more unforgettable than that.

And we still have thousand memories with another hundred sailing-family. We still have thousand memories with places we used to go. We still have thousand memories with the sailing home we used to stay. We still have thousand memories with beautiful sunsets we used to see everyday. How could I say goodbye with all of that? How could a family saying goodbye to each other? For sure, you can't and you won't.

You know what? I always enjoy the moment when the memories back. It hurts indeed, yet feels good at the same time. Such a sweet pain. Yesterday, today, or some years later, the feeling will remain the same.

Meskipun aku punya pilihan untuk move on ataupun tidak move on, I'll choose not to. Because I wanna stay there, Dear. Like forever.

__________________________________________________________________

#np Sandy Canester - Tempat Terindah

Disana ku merasa senang
Damai yang selalu ku damba
Di saat ku lelah
Disana ku dapat bahagia
Dan damai yang selalu nyata

Ingin selalu ada disana selamanya

Senin, 17 Agustus 2015

KPN Sail Raja Ampat 2014 - Part IV

Memperingati 70 tahun kemerdekaan Republik Indonesia hari ini, tanpa sadar pikiran saya terbang ke tahun 2014, bulan Agustus hari ke 17. Ya, ulang tahun Indonesia yang ke 69 tahun.

Makassar - Sorong

Sore hari di tanggal 15 Agustus 2014, kapal bertolak dari Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar menuju Sorong. Aktivitas kami dalam perjalanan laut tersebut tidak berbeda jauh dengan perjalanan sebelumnya. Olahraga pagi ditemani sinar oranye kekuningan matahari terbit dari ujung laut, dilanjutkan mandi, sarapan pagi, makan siang, materi hingga sore, ibadah magrib, makan malam, pentas seni, ditutup dengan istirahat.

Olahraga Pagi

Tapi ada satu hal yang berbeda, yaitu upacara peringatan 69 tahun Indonesia merdeka, 17 Agustus 2014. Upacara spesial ini akan dilaksanakan di anjungan (lantai paling atas) kapal. Dengan rasa excitement yang tinggi, kami segera bersiap pagi itu, berpakaian seragam batik merah putih lengkap dengan topi Sail Raja Ampat 2014. Pagi itu sekaligus menjadi pagi pertama kami menjadi konsumen antibiotik untuk malaria - berhubung destinasi kami selanjutnya adalah daerah rentan malaria. Obat ini dibagikan di hari sebelumnya kepada setiap peserta sebanyak 16 butir dan harus dikonsumsi setiap hari. Gawat! Honestly, saya gak pandai minum obat kapsul/tablet. Jika itu kapsul, maka kapsulnya harus dibuka dan saya hanya akan minum bubuk obatnya. Jika itu tablet, maka harus dihancurkan menggunakan air. Subhanallah, iya umur saya 23 tahun. (((23 tahun))). Pagi itu, dengan berat hati saya membuka kapsul obat lalu meminumnya. Huweekk, bubuk super pahit menggerogoti tenggorokan saya dan... saya muntah. Seketika bawaan badan jadi gak enak. Karena kejadian itu, saya sedikit terlambat mengikuti upacara. Peserta lain sudah selesai menyusun barisan. Saya bergabung di bagian belakang.

Posisi kapal tepat berada di Laut Banda dimana waktu itu ombaknya cukup tinggi. Para TNI AL berbaris gagah dan rapi lengkap dengan seragam mereka yang super kece. Upacara dimulai, bendera mulai dinaikkan oleh tim pengibar, lagu Indonesia Raya berkumandang, dan seluruh peserta dengan khidmat meletakkan tangan di kanan kepala pertanda hormat. Sikap tegap sedikit sulit dilakukan mengingat goyangan kapal kesana kemari akibat hempasan ombak. Bendera berhasil mencapai puncak tiang anjungan dan berkibar gagah ditiup kencangnya angin laut. Bagaimana rasanya? Tak ada yang bisa menjelaskan perasaan bahagia dan bangga luar biasanya menjadi saksi berkibarnya bendera Merah Putih di atas KRI Surabaya 591 di tengah Laut Banda.

 Upacara 69 Tahun Republik Indonesia

Pengibaran Bendera Merah Putih

Upacara selesai. Dilanjutkan dengan kegiatan bebas. (Masih di anjungan), entah dari mana, perlahan terdengar suara musik. Teman-teman saya tak bisa menahan hasrat untuk gak bergoyang, begitupun saya. Tapi, mengingat badan yg masih lemas karena insiden obat tadi pagi, saya hanya bisa duduk bersandar di salah satu dinding anjungan dan tertidur selama beberapa menit. Ketika bangun, acara joget-joget masih berlangsung. Ah, sudahlah. Saya tak bisa lagi menahan diri, saya pun ikut bergabung. Siang harinya diadakan berbagai lomba antar kelompok. Mulai dari lomba ambil koin dalam kuah, lomba make up dengan mata tertutup, sampai lomba futsal pakai sarung. Saya ikut di lomba make up dengan mata tertutup. Dibutuhkan tiga peserta dalam lomba itu. Satu orang tukang make up yang nantinya akan ditutup matanya, satu orang korban, dan satu orang pengarah. Tugas saya adalah mengarahkan si tukang make up. Dan jeng jeeeeng, si korban tampil cantik luar biasa berkat foundation setebal kulit badak yang dioleskan si make up artist. Seru seru! Perlombaan berakhir di sore hari.

KRI digoyaaang (Photo by @marsianusdismas)

 Selesai joget-joget

 Lomba Make up. Perhatikan make up paling tebal, dialah korban arahan saya. Hahahaha

Kelompok 6 (Watampone) seusai lomba 17-an

Raja Ampat - Sorong - Raja Ampat

19 Agustus 2014
Kapal sandar di Pelabuhan Waisai, ibukota Raja Ampat. Lho, bukannya rute kami adalah Sorong? Yap benar. Di Waisai, kami hanya menurunkan peserta Pelantara yang akan melakukan perkemahan. Setelah kapal bersih dari peserta Pelantara, resmilah kapal menjadi milik kami meski hanya untuk beberapa hari. Perjalanan dilanjutkan menuju kota Sorong, kurang lebih 2 jam. Sesampainya di Sorong, kami disambut oleh pemerintah daerah setempat plus tari-tarian khas daerah. Malam harinya, kami bertemu lagi dengan pemerintah dareah dimana mereka melakukan kunjungan ke atas KRI. Tak lupa pemerintah menyiapkan pemuda-pemudi daerah untuk pamer aksi menari di depan kami. Tari-tarian mistis dan penuh semangat ala Papua kini kami saksikan langsung di tanah mereka dengan penari asli putra-putri daerah.

 Dara-dara Cantique numpang eksis di Sorong

Hai Sorong! Salam kenal dari tanah melayu di seberang sana, Puan Cici dan Puan Amek

Dansatgas & Komandan KRI disambut oleh Pemerintah Kota Sorong

Kelompok Watampone bersama Pemuda-pemudi Kota Sorong

20 Agustus 2014
Pagi harinya kami melakukan kegiatan bersih-bersih pantai dimulai dari Pelabuhan Sorong. Kemudian dilanjutkan dengan pesiar ke Pantai Tanjung Kasuari. Wisata pantai kali itu adalah yang ter-menyebalkan bagi saya. Panjang kalo diceritakan dan akan terdengar childish. Tapi ada satu kejadian di pantai itu yang masih berbekas hingga kini. Kaki saya mendadak gatal dan muncul bintik-bintik merah selepas bermain di pantai. Entah karena bulu babi atau binatang air lainnya. Yang jelas ketidaknyamanan ini berlangsung lama dan semakin parah dari hari ke hari.

 Adik-adik pesisir Pantai Tanjung Kasuari

Waisai, ibukota Raja Ampat, kembali menyambut kami tanggal 22 Agustus. Ini dia yang kata orang surga jatuh ke bumi, Heaven on Earth, The Last Paradise. Tak sempat berlama-lama kagum, panitia langsung membawa kami ke kantor Bupati Raja Ampat untuk menerima pembekalan dari Menteri Pertahanan RI. Selesai pembekalan, kami diajak ke lokasi acara puncak kegiatan Sail Raja Ampat 2014, Pantai WTC (Waisai Torang Cinta) dan disana kami akan melakukan gladi untuk acara puncak besok. Sorenya kami berkunjung ke Raja Ampat Expo untuk sekedar melihat-lihat karena harga souvenir disini mahaaal hiks :"

Di bawah langit mendung Raja Ampat - Kelompok Watampone

Beberapa foto yang berhasil saya kumpulkan dari teman-teman di lokasi acara puncak Sail Raja Ampat 2014 - Pantai Waisai Torang Cinta, Raja Ampat, Papua Barat

Photo by @rahmatiaamek

Photo by @dewintapoernomo

 Photo by @arniboronia

Photo by @aryoajiseno

Photo by @tanianugraheni

Photo by @windy_cahyani

Photo by @agungibrahim

Photo by @agungibrahim

Hasilnya selalu sama bukan? Raja Ampat memang indah :"

23 Agustus 2014.
Acara puncak dari kegiatan ini pun tiba. Kami ditugaskan menjadi pagar ayu dan pagar bagus untuk menyambut Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Istri. Seluruh peserta berdandan secantik mungkin mengenakan pakaian adat dari daerah masing-masing. Hari itu, baju adat teluk belanga berwarna merah muda dengan hiasan kepala berupa tanjak, indah bersanding dengan baju adat kebaya laboh warna senada. Sunting tujuh bunga semakin mempercantik Dara-dara Melayu Riau. Tak lupa sebai (selandang bahu), bengkung (tali pinggang) dan kain songket sebagai pelengkap.

 Baju Adat Khas Provinsi Riau (Ki-ka : Rizky, Saya, Cici, Bang Hendra)

Satu lagi momen tak terlupakan terjadi disini. Saya dan partner saya, Rizky, mendapat kesempatan menjadi salah satu pasang dari dua pasang peserta yang berdiri paling depan ketika menyambut Bapak Presiden dan Istri. Sepasang peserta lagi adalah peserta asal Papua Barat, mengingat acara puncak berlangsung di tanah mereka. Biarlah orang berkata lebay, tapi momen itu memang membahagiakan. Satu kalimat yang berulang-ulang saya dan Rizky ucapkan sembari menunggu kedatangan Bapak Presiden dan Istri : "Mimpi apaaa kita semalam". Hehehe. Meski hari itu tanah Raja Ampat diguyur hujan, kami tetap setia menunggu kedatangan Bapak Presiden dan Ibu. Selain Bapak Presiden dan Istri, acara puncak juga dihadiri oleh Menteri kabinet Indonesia bersatu Jilid II, undangan dari negara sahabat, aktivis kelautan, dll. Acara berlangsung meriah. Dimulai dari pembukaan, kata sambutan dari pemerintah daerah setempat hingga Bapak Presiden, penampilan seni dari pemuda-pemudi daerah setempat, atraksi terjun payung mengibarkan bendera merah putih dan yang paling ditunggu-tunggu adalah Sailing Pass, yaitu parade kapal-kapal perang dari berbagai negara. Tak mau kalah saling unjuk kegagahan. Tak terkecuali kapal kebanggaan kami, rumah terapung kami, KRI Surabaya 591.

Tempat Istimewa :"

Bapak Presiden SBY dan Istri

Riau - Sumatera Selatan - DIY

 Riau - Bali

 Sulawesi Tenggara - Riau - Sumatera Utara

Indonesia :"

Atraksi terjun payung di bawah langit mendung Raja Ampat

Selesai acara, kami berganti pakaian seadanya dengan make up masih menempel di wajah. Sebelum meninggalkan Waisai esok hari, sekali lagi kami diajak ke Raja Ampat Expo. Akhirnya souvenir pun dibeli secukupnya, sebagai tanda kami pernah sampai disini. Keesokan harinya, kapal bertolak menuju destinasi selanjutnya.